Potensi Fisik & Sosial di Sumatera Utara
Potensi Fisik di Sumatera Utara
- Sumber Daya Alam
Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan segala keunggunalan yang dimiliki dibidang ekologi dan hasil laut yang diakui secara internasional. Sumber daya ikan yang hidup di wilayah perairan Indonesia dinilai memiliki tingkat keragaman hayati (bio-diversity) paling tinggi. Sumber daya tersebut paling tidak mencakup 37% dari spesies ikan di dunia (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1994). Di wilayah perairan laut Indonesia terdapat beberapa jenis ikan bernilai ekonomis tinggi antara lain : tuna, cakalang, udang, tongkol, tenggiri, kakap, cumi-cumi, ikan-ikan karang (kerapu, baronang, udang barong/lobster), ikan hias dan kekerangan termasuk rumput laut.
Wilayah pengembangan sektor perikanan di Sumatera Utara dibagi menjadi beberapa wilayah kerja dengan potensi wilayah masing-masing. Wilayah tersebut adalah:
1. Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara
Terdiri dari 12 kabupaten/kota yang berada di wilayah Pantai Barat yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara. Dimana Potensi Pengembangan pada wilayah ini adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari Rumput Laut, Kerapu dan kakap, Budidaya tawar yang terdiri dari mas, nila, Lele, Patin, Gurame, Tawes dan Nilam. Budidaya Tambak yang terdiri dari Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng.
2. Wilayah Dataran Tinggi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah dataran tinggi Sumatera Utara adalah Wilayah yang berada di wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Pakpak Bharat. Sedangkan Potensi Pengembangan pada wilayah ini terdiri dari penangkapan ikan di perairan umum, pengolahan ikan. budidaya air tawar yaitu Nila, Mas, Lele, Patin dan Gurame
3. Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara
Terdapat 11 Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah Pantai Timur Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, kabupaten Labuhan batu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Batubara, Kota Medan, Kota Tanjung Balai, Dimana potensi pengembangan di wilayah Timur Sumatera Utara adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari kerapu, kakap, dan kerang hijau, Budidaya Tawar yaitu Mas, Nila, Lele, Patin, Gurame, Grass carp, Lobster air tawar, Bawal tawar dan Ikan hias, Budidaya Tambak yaitu Rumput Laut, Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng, sedangkan Budidaya perairan umum yaitu Mas, Nila dll.
- Tempat Wisata
Ø Danau
Toba
Danau Toba diperkirakan
para ahli terbentuk setelah letusan gunung api super sekitar 75 ribu tahun
lalu. Saat itu diperkirakan 2,8 juta m3 bahan vulkanik dimuntahkan Gunung Toba
yang meletus, hingga debu vulkanik yang ditiup angin menyebar ke separuh
wilayah Bumi. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai
10 kilometer di atas permukaan laut.
Danau Toba adalah danau
teluas di Asia Tenggara, dan terbesar kedua setelah Danau Victoria di Afrika.
Terbentuk dari letusan Gunung Toba, menghasilkan kawah seluas 1.145 km2, dengan
kedalaman hingga 450 m. Suasana udaranya sejuk menyegarkan, hamparan air jernih
membiru, dan pemandangan mempesona dari pegunungan hijau adalah danau raksasa
yang berada 900 meter di atas permukaan laut itu.
Ø Pulau
Samosir
Pulau Samosir terletak di tengah Danau Toba, adalah pulau vulkanik dengan ketinggiannya 1.000 m di atas permukaan laut, memiliki luas hampir sama dengan negara Singapura.
Di tengah Pulau Samosir ini masih ada lagi dua danau indah yang diberi nama Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Di pinggiran Danau Toba terdapat beberapa air terjun yang sangat mempesona. Pulau yang juga dikenal dengan julukan Danau Debata ini menawarkan keindahan alam berupa perbukitan yang menghijau, air danau yang jernih, dan udara yang segar.
Salju Panas Dolok Tinggi Raja
Tempat Rekreasi Air Panas di Sumatera yang bernama Salju Panas Dolok Tinggi Raja ini berlokasi di Desa Dolok Tinggi Raja, Sumatera Utara. Salju Panas Dolok Tinggi Raja adalah sebuah kawasan bukit kapur, menyerupai sebuah danau, dan memiliki warna tanah yan gunik, yakni bewarna putih menyerupai salju. Di tengah-tengah Salju panas Dolok Tinggi Raja, terdapat danau air panas yang berwarna biru kehijauan.
Danau Linting
Danau Linting berlokasi di Desa Sibunga-bunga Hilir, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang, berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Medan.
Danau Linting merupakan sebuah danau vulkanik dengan ukuran sekitar 1 hektar dan mengandung belerang sehingga warna airnya bewarna kehijauan. Apabila ingin berenang berhati-hatilah karena Danau Linting memiliki air cukup dalam, diperkirakan kedalaman lebih dari 100 meter.
Taman Nasional Gunung Leuser
Taman Nasional Gunung Leuser adalah sebuah area pelestarian alam yang berlokasi di 2 Provinsi yaitu Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darusalam. Selain berfungsi sebagai area pelestarian alam, Taman Nasional Gunung Leuser juga menjadi tempat wisata alam di Sumatera Utara yang cukup menarik karena keanekaragaman fauna dan floranya.
Potensi Sosial di Sumatera Utara
Ciri Kebudayaan Sumatera Utara
1. Rumah Adat
Rumah adat Sumatera Utara dinamakan Parsakitan dan Jabu Bolon. Jabu Parsakitan adalah rumah adat di daerah Batak Toba, tempat penyimpanan barang-barang pusaka dan tempat pertemuan untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan adat. Jabu Bolon adalah rumah pertemuan suatu keluarga besar. Berbentuk panggung dan ruang atas untuk tempat tinggal bersama-sama, Tempat tidur lebih tinggi dari dapur.
2. Pakaian Adat
Di daerah Tapanuli Utara tenunan tradisionalnya disebut ulos. Kain ulos itu terdiri dari beberapa macam yang harga dan fungsinya berbeda-beda. Misalnya: Ulos Godang, Sibolang, Mangiring, Sitoluntuho, Ragi Hidup, Sadum, dan Ragi Hotang.
Pada upacara adat kaum pria mengenakan tutup kepala yang disebut sabe-sabe dari ulos Mangiring. Di bahunya disampirkan Ulos Ragi Hotang dan mengenakan kain sarung. Kaum wanitanya menegenakan Ulos Sadum yang disampirkan di kedua bahunya dililit dengan Ulos Ragi Hotang dan mengenakan sarung suji.
3. Tarian Adat
I. Tari Serampang Dua Belas, sebuah tari melayu dengan irama joged. Diiringi musik dengan pukulan gendang ala Amerika Latin. Serampang Dua Belas merupakan tari pergaulan, baik bagi muda-mudi maupun orang tua.
II. Tari Tor-tor, sebuah tari dari daerah Batak dengan latar belakang falsafah peradatan dan ditarikan dalam suasana khusuk.
III. Tari Marsia Lapari, tari garapan ini menggambarkan kegiatan gadis-gadis Sumatera Utara yang senantiasa saling membantu dalam menggarap sawah. Olahan tari didasarkan unsur gerak tari daerah Tapanuli Selatan yang diramu dengan unsur daerah lain, dengan iringan musik gondang sembilah.
IV. Tari Manduda, suatu bentuk tarian rakyat Simalungun yang bersuka ria di masa panen padi.
4. Senjata Tradisional
Piso surit adalah sejenis belati dan merupakan senjata tradisional di Tanah Karo, Sumatera Utara. Piso Raja Dompak, berupa sebilah keris panjang merupakan lambang penting pemerintahan Raja Sisingamangaraja. Senjata ini hanya boleh digunakan oleh raja saja. Senjata tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat umum adalah hujur sejenis tombak dan pedang sejenis pedang panjang.
5. Suku
Suku dan marga yang terdapat di daerah Sumatera Utara : Melayu, Batak (Mandailing, Toba, Simalungun, Karo), Nias, dan lain-lain.
6. Bahasa Daerah
Batak, Karo, Melayu, Nias, Mandailing, dan lain-lain.
7. Lagu Daerah
Pantun Lama, Butet, Sengko-sengko.
8. Tradisi budaya
a) Lompat Batu
Lompat batu atau hombo batu berasal dari desa Bawo Mataluo Nias kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini merupakan ritual khusus buat para pemuda, untuk menentukan apakah seorang pemuda sudah dewasa dan telah memenuhi syarat untuk menikah atau belum. Mereka akan melompati batu yang di susun sedemikian rupa yang tingginya lebih dari 2 meter, melalui sebuah baru kecil untuk pijakan ketika melompati batu. Ada ritual khusus sebelum melompati batu. Dengan memakai pakaian adat mereka begitu bersemangat untuk bisa melompati batu.
b) Mangokkal Holi
Tradisi turun temurun masyarakat Batak. Mangokkal Holi berarti mengambil tulang belulang dari leluhur mereka dari dalam kuburan, lalu ditempatkan di peti, dan selanjutnya ditaruh di sebuah bangunan tugu khusus untuk menyimpan tulang belulang leluhur. Semua etnis batak melaksanakan tradisi ini,meski nama dari tradisi ini berbeda-beda tiap etnis, yaitu etnis Toba dan Simalungun menyebutnya Mangokkal Holi, etnis Karo menyebutnya Nampekken Tulan, etnis Pakpak menyebutnya Mengkurak Tulan atau Mengongkal Tulan, tetapi inti dan tujuan dari tradisi ini sama, yaitu untuk mempertahankan silsilah garis keturunan marga, dan juga untuk menunjukkan eksistensi dan taraf hidup keluarga yang melaksanakannya. Selain itu mereka percaya, dengan menempatkan leluhur di tugu adalah bukti bahwa mereka tidak pernah lupa dengan leluhur mereka.
c) Kenduri Laut
Berasal dari Tapanuli Tengah. Dilaksanakan setahun sekali, pada bulan Oktober. Tradisi ini sebagai ungkapan terima kasih masyarakat Tapanuli Tengah kepada Tuhan atas melimpahnya hasil laut dan pertanian. Biasanya berlangsung di pantai pada malam hari dan berlanjut ke siang hari, upacara seremonial ini melibatkan semua elemen dari 11 kecamatan Tapanuli Tengah. Setiap perwakilan dari masing-masing kecamatan membawa hasil pertanian dan juga ternak, lalu menunjukkannya di atas panggung (parade) secara bergantian. Selain itu diadakan berbagai lomba, seperti perahu naga, layang-layang, dan lain-lain. Ada juga hiburan berupa pertunjukkan seni, baik oleh seniman setempat ataupun dari luar daerah yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara.
d) Tarian Sigale-gale
Jika kita mengunjungi rumah adat Batak di desa Tomok, maka kita akan melihat sebuah patung Sigale-gale di depan rumah Bolon. Sigale-gale sendiri adalah boneka kayu seukuran manusia yang di gerakkan untuk menari. Menurut legenda Sigale-gale adalah putra tunggal dari raja Rahat, dan menjadi kesayangan raja. Namun Sigale-gale meninggal karena sakit. Raja amat bersedih, kemudian demi mengobati kesedihan raja, maka dibuatlah sebuah boneka kayu yang menyerupai Sigale-gale. Kemudian diadakan ritual memanggil arwah Sigale-gale, sehingga boneka itu bisa menari-nari diiringi musik adat Batak. Sekarang tarian boneka kayu ini menjadi daya tarik wisata, dan boneka digerakkan oleh 2 atau 3 orang.
Sosial Masyarakat
Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip, yaitu perbedaan tingkat umur, perbedaan pangkat dan jabatan, perbedaan sifat keaslian, dan status kawin. Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga. Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga.
Klan kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klan besar yang anggotanya sudah banyak hidup tersebar, sehingga tidak saling kenal. Tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya.
Orang Batak, bagi masyarakat suku lain di belahan lain selain pulau Sumatra, mungkin gampang dan mudah dikenal, karena memiliki beberapa ciri khas yang menonjol dan agak berbeda dan suku-suku lain di Indonesia. Cirinya adalah suara orang Batak yang cenderung lantang atau keras, logat yang kental, emosional, berani tampil, dan suka menolong.
Perekonomian
Pada umumnya, mata pencaharian masyarakat Batak adalah bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap kelurga mandapatkan tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan. Selain pertanian, perternakan juga salah satu mata pencaharian suku batak. Hewan yang diternakan antara lain kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Masyarakat yang tinggal di sekitar danau Toba sebagian bermata pencaharian menangkap ikan. Selain itu juga, mereka berprofesi pada sektor kerajinan. Hasil kerajinannya antara lain tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, tembikar, dan lainnya yang ada kaitan dengan pariwisata.
Permasalahan dan Solusinya
1. Permasalahan
• Kerusakan Lingkungan
Wilayah pesisir timur Sumatera Utara terdiri dari 436 desa pesisir yang tersebar di 35 kecamatan dan 7 kabupaten/kota. Sebagian besar masyarakat desa pesisir menggantungkan hidupnya secara langsung di wilayah pesisir. Secara umum dapat dilihat bahwa taraf hidup mereka (khususnya nelayan) masih banyak yang hidup pra sejahtera (miskin). Eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya pesisir dan laut dalam rangka pembangunan ekonomi menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan yang cukup parah. Dampak negatif dari eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan tidak terarah telah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat desa pesisir.
Proses tergerusnya garis pantai (erosi/abrasi) dan bertambah dangkalnya perairan pantai (sedimentasi/pengendapan) pada dasarnya merupakan proses yang terjadi secara alami, tetapi kejadian tersebut diperparah dengan ulah manusia yang telah membabat tanaman pelindung pantai (mangrove), baik untuk tujuan pemanfaatan nilai ekonomis kayu bakau maupun untuk konversi lahan menjadi tambak atau lokasi bangunan liar. Beberapa bagian pesisir timur Sumatera Utara terdapat garis pantai yang bertambah maju terutama di daerah yang sedimentasinya cukup tinggi. Kerusakan mangrove di pesisir timur mempunyai dampak negatif lebih jauh yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir sendiri antara lain:
o Berkurangnya hasil tangkapan ikan dan udang
o Semakin sulitnya mendapatkan kepiting bakau (scylla serrata) baik ukuran konsumsi maupun ukuran untuk benih
o Terjadi intrusi air laut ke daerah pemukiman penduduk dan areal pertanian
o Selain karena kerusakan mangrove, pencemaran juga telah banyak memberi andil pada kerusakan lingkungan pesisir, baik limbah cair maupun limbah padat yang bersumber dari industri dan rumah tangga.
• Masalah Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan hal pokok yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan. Masalah sumber daya manusia menyangkut aspek potensi kependudukan, pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan. Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan rendahnya daya serap terhadap IPTEK sehingga sering menjadi kendala bagi peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi. Pendidikan yang rendah juga menyebabkan sulitnya proses peningkatan kesadaran lingkungan dalam masyarakat. Kegiatan mengelola sumber daya pesisir membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai bidangnya, mulai dari tingkat ahli madya sampai sarjana, karena pengelolaan sumber daya pesisir dan laut membutuhkan teknologi sederhana sampai teknologi yang tinggi. Perguruan tinggi yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan di Sumatera Utara memang agak terlambat berdirinya, karena setelah terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan baru muncul perguruan tinggi yang berbau kelautan dan perikanan di beberapa kabupaten/kota.
• Masalah Kelembagaan
Sehubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut di proinsi Sumatera Utara telah terdapat bentuk-bentuk hukum dan peraturan yang mendukung yaitu dalam bentuk Undang-undang, Keputusan Presiden, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Di wilayah pesisir juga terdapat kelembagaan yang mengelola sumber daya pesisir dan lautan (diluar lembaga pemerintahan) yaitu: Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Profesi (HNSI, MPN, Asosiasi Nelayan, Kelompok Nelayan, Kelompok Pembudidaya), Koperasi, Tangkahan (TPI Swasta), dan sebagainya.
Beberapa kelemahan dalam kelembagaan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut antara lain:
o Pembangunan wilayah pesisir belum menjadi prioritas bagi lembaga pemerintahan dan LSM sehingga pembangunan wilayah pesisir masih tertinggal dibanding wilayah lain.
o Kurangnya koordinasi dari instansi terkait dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut
o Masih lemahnya pemahaman tentang hukum lingkungan, baik di tingkat aparatur maupun masyarakat.
o Pengusulan program pengelolaan pesisir masih ego-sektoral.
o Koordinasi dan pengawasan dalam penerbitan kegiatan perikanan belum berjalan dengan baik.
o Mekanisme perencanaan belum dilaksanakan secara bottom-up.
o Sistem pembinaan profesi masyarakat pesisir belum tepat.
o Data yang ditampilkan oleh instansi terkait sehubungan dengan sumber daya pesisir belum akurat.
2. Solusi
o Komprehensif, Integral, Holistik, dalam hal ini Pemerintah berperan menciptakan iklim kondusif dengan melakukan analisis komprehensif dan integral dengan arah dan target yang jelas dan terfokus, sehingga kontribusi potensi kelautan dalam pertumbuhan ekonomi menjadi lebih signifikan
o Penataan Supply dan Demand haruslah mampu menciptakan Investasi melalui pemanfaatan sinergi yang harmoni antar jaringan dan pasar untuk hasil laut Sumatera Utara. Ini dapat terwujud jika networking, organisasi bisnis, inkubator iptek serta industri bisa terwujud
o Menggali Potensi Kelautan adalah tanggung jawab kita bersama
Menggali Potensi laut bukanlah menjadi tanggung jawab sebuah institusi saja, melainkan tanggung jawab kita bersama, yaitu bangsa, negara dan masyarakat, sehingga dalam memanfaatkan potensi laut perlu membangun kebersamaan sinergi dan kolaborasi yang kuat antar institusi, industri, masyarakat serta perguruan tinggi. Dengan kebersamaan yang harmonis ini kita akan bisa membangun kelautan kita serta memanfaatkan kekayaan itu untuk pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.
Jika kita mampu melakukan kolaborasi dengan berpijak kepada tugas dan fungsi masing-masing komponen, niscaya potensi yang melimpah bisa dimanfaatkan dengan baik, karena itu kalau hari ini hanya segelintir pemuda yang mau hidup sebagai nelayan, maka kedepan nelayan generasi muda akan segera melaut. Laut akan menjadi tumpuan hidup bagi generasi muda, sehingga akan menjadi faktor kunci bagi pertumbuhan ekonomi di negara ini.
Comments
Post a Comment